Email : info@surgoland.com CALL/WA : 08788 6846 700
    Facebook
  • Instagram

Apakah Semua Properti itu Aset?

Apakah Semua Properti itu Aset?

Sebelum saya melanjutkan ke pembahasan selanjutnya, saya akan menanyakan lebih dulu kepada anda. “Apakah semua properti khususnya rumah yang anda beli itu termasuk aset?”

Jawabnya, ”Tidak semua properti merupakan aset!” Ada properti yang masuk dalam kategori barang konsumtif (liability, hutang), ada pula properti yang masuk dalam kategori aset (kekayaan). Bedanya terletak pada aliran kas yang ada pada properti itu. Kalau properti yang anda miliki atau akan anda beli memiliki arus kas positif atau ada uang masuk, maka itu termasuk properti aset. Tapi kalau properti yang anda miliki adalah properti yang ‟menyedot‟ uang anda karena anda harus mengeluarkan uang setiap bulan untuk perawatan, perbaikan, bayar listrik, tukang kebun dan sebagainya, maka properti jenis ini termasuk liability (kewajiban).

Karena itu, properti-properti yang harus menjadi sasaran anda adalah properti aset yang menghasilkan arus kas positif (arus kas masuk lebih besar dari arus kas keluar).

Sumber gambar: https://www.asura.co.id/blog/woowinvestasi-properti-sebenarnya-itu-aset-apa-liabilitas

 

Sasaran Properti Anda

Strategi-strategi yang saya sampaikan sebelumnya memang tidak harus untuk properti yang murah dan dibawah harga pasar. Akan tetapi, strategi diatas akan lebih optimal bila propertinya murah dibawah harga. Karena itu, pembahasan selanjutnya akan lebih fokus pada bagaimana mendapatkan properti murah. Ukuran murah atau dibawah pasar itu kalau harga propertinya 30% lebih rendah dari harga pasar. Kalau ada properti yang dijual 10-20% dibawah pasar itu bukan termasuk properti murah, karena itu hanya merupakan fluktuasi harga saja.

Jika anda sekarang membaca koran, pasti anda akan menemukan ratusan iklan rumah di jual. Ternyata tidak semua rumah yang dijual atau ditawarkan itu menguntungkan untuk anda. Karena itu untuk menghemat waktu dalam pencarian, dalam membaca iklan koran pun harus ada cara yang efektif.

Properti yang menjadi target anda adalah properti (rumah, ruko, gudang, rukan, kantor) yang harganya dibawah harga pasar dan memiliki cash flow (arus kas) yang bisa menutupi angsuran bank. Dengan mendapatkan properti seperti itu, maka anda dapat memanfaatkan daya pengungkit dari hutang bank untuk membiayai properti anda.

Dengan hutang bank, maka anda tidak harus membayar sekaligus seluruh harga yang anda beli. Inilah yang dinamakan ‟leverage‟ atau daya pengungkit. Anda bisa memiliki properti tanpa harus membayar dengan uang anda sendiri! Biarkan orang lain, dalam hal ini bank yang membiayai properti anda. Asyik kan!

Karena itu, properti yang anda beli harus properti yang menghasilkan uang. Kalau begitu, dari ratusan bahkan ribuan iklan baris yang ada dikoran, majalah atau internet hanya sedikit sekali yang masuk kriteria ini?.

Memang hanya sedikit yang masuk dalam kriteria ini. Tapi tenang saja, karena anda hanya membutuhkan satu rumah saja yang akan mengubah hidup anda, yang perbedaannya bagai ’surga’ dan ’neraka’. Yakinlah bahwa selalu ada peluang untuk mendapatkan properti seperti itu!

Properti bagaimana yang sesuai kriteria diatas? (properti dengan harga dibawah maksudkan itu:pasar dan memiliki arus kas yang bisa menutup angsuran bank syariah? Inilah properti yang saya

  1. Rumah Sewaan (terutama sewaan orang asing)
  2. Apartmen (khususnya yang sudah ada penyewanya)
  3. Kos-kosan yang sudah berjalan dan sudah ada penyewanya.
  4. Gedung Komersial yang sudah berjalan dan ada penyewanya
  5. Rumah yang ada bisnisnya

Oke…, tapi mungkin anda akan menyangkal lagi informasi yang saya sampaikan diatas. Anda mungkin mengajukan pertanyaan, ”Bagaimana mungkin mendapatkan rumah sewaan dengan penghasilan yang dapat menutupi angsuran bank, sementara rata-rata harga sewa rumah hanya 5-10% per tahun dari harga pasar, sedangkan suku bunga pinjaman bank diatas 10% per tahun?”

Rata-rata sewa properti di Indonesia memang sekitar 5-10%. Tapi ingat, bahwa angka rata-rata itu adalah perkiraaan, sehingga selalu ada nilai sewa yang diatas rata-rata. Dan ini sudah saya buktikan sendiri, saya punya properti dengan harga beli Rp100 juta tapi nilai sewanya Rp30 juta perbulan atau 30%! Dengan demikian, kalau rata-ratanya 10%, maka pasti ada sewa yang diatas 10% yakni 12%, 15%, 20% bahkan sampai 30%.

Karena itu, tetap optimis bahwa selalu ADA yang diluar rata-rata, dan selanjutnya anda FOKUS mencari properti yang nilai sewanya diatas rata-rata dan diatas bunga bank. Saya yakin anda BISA menemukan properti seperti itu dan akan membuat anda KAYA!

Sumber Gambar: https://www.google.com/search?q=properti&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwju7aHG-K_fAhUBv48KHaQ3DlwQ_AUIDigB&biw=1366&bih=657#imgrc=GtZpx4s5RH69VM:

Ada 13 Strategi untuk Mendapatkan Properti Gratis.

  1. Strategi Tanah Fifty Fifty,  Strategi ini saya maksudkan sebagai membeli tanah yang tidak terlalu luas, misalnya 500 m2. Setelah terjadi kesepakatan harga dan tempo pembayaran selama kurang lebih 3 bulan, maka anda lakukan pemasaran dengan sistem per kavling, misalnya dibagi menjadi 3 kavling. Biasanya, tanah yang luas itu harganya relatif murah dibanding dengan tanah yang lebih kecil. Dan, tanah yang lebih kecil juga peminatnya lebih banyak. Karena itu, anda bisa menjual per kavling dengan harga yang lebih tinggi. Dengan teknik ini, apakah anda mengeluarkan uang? Tentu saja tidak, kecuali biaya telepon, transportasi dan materai. Teknik ini juga bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga, bahkan pengangguran sekali pun.
  2. Strategi developer amatir. Strategi ini dengan cara membeli tanah 1 kavling dan membangunnya. Caranya, beli tanah dengan perjanjian bersyarat pembayaran 3 bulan atau lebih. Kemudian tanah tersebut dijual dalam bentuk rumah. Uangnya dari mana?Pertama, cari pembeli. Bila ada yang mau dan sudah terjadi kesepakatan harga, minta uang DP kepada pembeli sebesar 20-30%. Kedua, untuk menarik minat pembeli anda bisa tawarkan pembayarannya melalui KPR Syariah atau diangsur selama 6 – 12 bulan.
  3. Strategi small developer, membeli lahan tanah dengan perjanjian bersyarat. Untuk melakukan strategi ini, anda tidak harus melakukan dengan membeli tanah yang luas, tapi bisa dimulai dari satu kavling tanah, misalnya tanah seluas 150 m2.
  4. Strategi Mark to Market. Membeli properti dengan cara melakukan penyesuaian harga mark to market atas nilai properti saat mengajukan pinjaman kredit bank. Cara ini ada yang menganggap sebagai cara tricky. Meski demikian, anda harus sangat extra berhati-hati karena risikonya sangat besar, bila anda tidak mempersiapkannya dengan baik. Sebab kalau sampai anda tidak mampu membayar, maka bank (termasuk Bank Indonesia) akan mem-black list anda. Sekali anda di black list oleh BI, maka selama bertahun-tahun ke depan anda akan sangat sulit dipercaya oleh dunia perbankan, karena info black list dapat diakses oleh seluruh perbankan di Indonesia. Karena itu, teknik ini sebaiknya tidak digunakan secara gegabah, apalagi bila anda tidak memiliki penghasilan yang memadai untuk mem-back up angsuran tiap bulannya.
  5. Strategi kredit modal kerja atau kredit multi gunaCara ini bisa dilakukan baik oleh karyawan maupun pengusaha yang sudah memiliki properti/rumah.Bagi karyawan: Anda dapat membeli rumah/properti dengan menggunakan kredit multi guna (karyawan tidak bisa menggunakan kredit modal kerja dari bank). Misalnya ada rumah kos/ruko/rumah usaha dan harganya murah dan menghasilkan setiap bulan. Anda ajukan kredit multi guna kepada bank dengan mengagunkan properti/rumah anda.

    Bagi Pengusaha: Bila anda pengusaha, anda bisa memanfaatkan hutang modal kerja untuk membeli properti. Caranya, anda mengajukan kredit modal kerja dengan mengagunkan salah satu properti anda. Setelah mendapatkan kredit modal kerja (KMK) maka uang KMK itu digunakan untuk membeli properti yang anda inginkan. Syaratnya tetap sama, cari properti murah dan menghasilkan arus kas (sewa/hasil usaha positif).

  6. Strategi Media Billboard. Strategi membeli properti melalui media billboard ini dilakukan dengan cara mencari properti komersiil (ruko, gedung kantor, gedung pertemuan dan lainnya) atau pun rumah yang lokasinya sangat strategis, misalnya di persimpangan atau didekat perempatan jalan raya. Setelah anda menemukan properti seperti itu dan sudah sepakat harganya serta jangka waktu pembayarannya, maka anda bisa menawarkan bagian atap atau halaman properti ini untuk dipasang billboard atau iklan kepada perusahaan. advertising atau langsung kepada perusahaan produk. Yang dimaksud sewa di sini adalah hanya bagian atap saja atau halaman untuk memasang billboard. Jadi anda masih bisa menggunakan properti untuk ditinggali atau disewakan. Dengan demikian, anda akan mendapatkan uang dari sewa media billboard, Sewa ruangan properti, antara 5 – 10% per tahun.
  7. Strategi Media Billboard & Full Sewa. Strategi ini merupakan pengembangan dari strategi nomor 6 (Strategi media billboard). Pada strategi ini, diasumsikan kita bisa mendapatkan sewa billboard full selama 5 tahun dan sewa properti full selama 5 tahun juga. Apabila ini yang terjadi, maka sesungguhnya kita bisa mendapatkan properti tanpa KPR dan tanpa menunggu harga murah (dibawah harga pasar/NJOP).
  8. Kerjasama dengan Pewaralaba (franchisor). Anda juga bisa menjalankan strategi ini untuk mendapatkan properti tanpa modal. Caranya, sebelum anda mencari properti, anda menghubungi pemilik bisnis waralaba. Selanjutnya, anda cari properti yang sesuai dengan keinginan pewaralaba. Bila ada yang cocok, anda bisa sewakan kepada pembeli waralaba. Biasanya, untuk sewa seperti ini minimal 3 tahun. Dengan asumsi sewa 8% per tahun, maka anda akan mendapatkan 24% dari harga properti. Untuk pelunasan KPR tahun kedua dan seterusnya, anda bisa lakukan kombinasi dengan media billboard seperti yang dijelaskan diatas.
  9. Strategi Franchisor Based. Strategi ini cocok untuk anda yang memiliki bisnis dengan merk terkenal terpercaya dan bisa di franchise-kan. Strategi ini seringkali di gunakan oleh Mc Donald. McD biasanya membeli tempat-tempat strategis untuk disewakan kepada franchisee (pembeli waralaba)-nya.
  10. Strategi Take over bisnis dan propertinya. Contohnya, ada sebuah SPBU dijual. Saya seringkali menemukan SPBU dijual, baik dari iklan koran maupun informasi beberapa teman. Anda bisa membeli usaha ini dengan take over (mengambil alih) dari pemiliknya dengan uang bank. Tidak hanya SPBU, banyak bisnis-bisnis yang dijual beserta tempat usahanya. Mulai dari bisnis kecil yang harganya puluhan juta hingga milyaran rupiah. Strategi ini sangat cocok kalau anda menguasai ilmu bisnis. Tapi kalau anda tidak mengerti bisnisnya, sebaiknya tidak melakukan hal ini karena anda kesulitan mengelola bisnis dan akhirnya bisa bangkrut.
  11. Strategi Share Saham. Strategi ini bisa anda lakukan bila anda tidak mau membeli perusahaan dengan menggunakan uang bank. Mirip dengan strategi take over bisnis. Caranya, ketika ada perusahaan atau bisnis merugi dan akan dijual beserta propertinya. Misalnya saja, ada bisnis yang dalam kondisi „sekarat‟ mau bangkrut dan ditawarkan untuk dijual. Maka anda bisa menawarkan kepada pemiliknya untuk membeli perusahaan itu. Katakan anda mau membeli dengan syarat akan membayar setelah beberapa waktu. Memang tidak gampang untuk meyakinkan penjual, tapi anda bisa mencoba dengan teknik “buat orang lain menang lebih dulu, baru anda yang menang”.
  12. Strategi Cash Collateral Credit (C3).  Strategi ini cocok kalau anda punya uang nganggur. Misalnya anda punya uang Rp500 juta. Dari pada uang ‟nganggur‟ dan hanya disimpan di bank dengan mengandalkan bunga atau bagi hasil bank syariah, anda bisa manfaatkan uang tersebut untuk membeli properti dan uang anda masih tetap ada di bank.
  13. Strategi Intangible Assets. Anda juga bisa memiliki properti tanpa modal, bila anda memiliki intangible assets yang dikenal dan dipercaya. Seperti popularitas, keahlian (skill), kedudukan sosial, dan networking. Popularitas anda bisa digunakan untuk memperoleh properti tanpa modal atau diskon yang besar sekali khususnya di perumahan baru. Selain popularitas, keahlian (skill) juga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan properti tanpa modal. Misalnya anda punya keahlian memasak. Anda mengajak kerjasama bisnis dengan teman/mitra untuk membuka restoran, dan anda yang kelola semuanya. Karena itu anda minta bagian saham sekian persen sebagai pemodal skill. Sebagai pemilik modal, maka tentu saja anda juga sebagai pemilik properti yang ada diperusahaan itu.

    Sumber picture: https://www.liputan6.com/bisnis/read/2290445/tips-kaya-lewat-investasi-properti

Strategi Properti Tanpa Modal Sendiri

Membeli properti tanpa modal yang saya maksudkan bukan membeli properti karena mendapatkan uang warisan, kawin dengan suami/istri kaya, atau dapat uang dari undian lotre. Membeli properti tanpa modal sendiri adalah karena kita dapat membeli properti tanpa mengeluarkan uang sendiri. Kalau begitu, uangnya dari mana? Mari kita perhatikan berikut ini:

Dalam transaksi jual beli properti biasanya ada 3 jenis pelunasan yakni:

  1. Uang tanda jadi pembelian
  2. Uang Muka (DP)
  3. Pelunasan

Ketiga pelunasan itulah yang harus diselesaikan. Kalau anda punya uang, maka tidak akan kesulitan menyelesaikan pembayaran tersebut. Masalahnya disini, kita ingin membeli properti tanpa uang atau tanpa modal sendiri. Bagaimana caranya?

Intinya, dalam melakukan transaksi pembelian properti anda harus meminta waktu pembayaran/pelunasan dalam waktu kurang lebih 3 bulan atau lebih. Nah, selama waktu 3 bulan itulah anda akan mencari pembiayaan properti yang akan anda beli, atau mencari pembeli (bila anda ingin langsung menjualnya). Bagaimana agar penjual mau memberikan kelonggaran pembayaran? Salah satunya adalah dengan memberikan manfaat lebih kepada penjual, misalnya anda akan membayar 5% pajak penjual, dan lainnya.

Kalau penjual minta tanda jadi pembelian dan uang muka (DP), maka katakan kepada penjual kalau anda akan mencoba pembiayaan dengan KPR Syariah sehingga butuh waktu dan belum tentu disetujui. Demikian juga katakan kepada penjual, kalau anda tidak mau memberi uang muka diantaranya karena anda belum siap dana karena deposito belum jatuh tempo, belum ada tagihan masuk dari mitra bisnis dan lain sebagainya, sesuai kondisi anda. (untuk meyakinkan penjual, akan dibahas dalam bab berikutnya)

Selain itu, saat anda minta waktu pembayaran/pelunasan paling lambat 90 hari (3 bulan), sebaiknya tidak mengatakan ”pembayaran akan dilakukan 3 bulan” tapi lebih baik katakan, ”saya akan melunasi selambat-lambatnya  pada tanggal……bulan……..tahun……..”(tetap dihitung 3 bulan dari kesepakatan). Hal ini akan membuat penjual nyaman, karena ada kata-kata selambat-lambatnya yang berarti bisa lebih cepat pembayarannya.

Dengan cara ini, tentu saja ada penjual yang mau dan ada juga penjual yang tidak mau. Kalau tidak mau dengan syarat ini, ya tinggalkan saja, cari yang lain. Kalau ada penjual yang mau, maka sebaiknya dibuatkan perjanjian diatas materai, dan jangan lupa minta copy serifikat dan surat-surat lainnya. Selama perjanjian itu, properti tidak boleh dijual kepada pihak lain (contoh perikatan jual beli silahkan dilihat di lampiran).

Sumber Gambar : http://asriman.com/tips-sukses-bisnis-properti-tanpa-modal/

 

Faktor Penghambat Untuk Memiliki Properti

Faktor Penghambat Untuk Memiliki Properti

Anda mungkin sering memperhatikan banyak orang yang sesungguhnya memiliki penghasilan besar tapi sampai usianya yang sudah udzur, mereka belum memiliki properti. Selama hidupnya hanya menjadi „kontraktor‟ atau tinggal di rumah kontrakan. Anda juga mungkin sering memperhatikan orang-orang yang penghasilannya kecil, bahkan terkesan tidak mungkin bisa membeli properti, tapi mereka punya properti lebih dari satu.

Berikut ini adalah faktor penghambat orang untuk memiliki properti.

  1. Keyakinan yang salah terhadap properti. Sebagian besar orang, memiliki minimal ada 2 keyakinan yang salah terhadap properti, yakni:
  • Properti adalah barang mahal, karena itu hanya bisa dibeli orang kaya. Sedangkan untuk kaya, butuh waktu lama bahkan sampai tua. Padahal, meski properti mahal, tapi properti itu memiliki keunikan karena bisa diperoleh dengan tanpa modal, alias gratis.
  • Properti adalah barang masa depan. Artinya, orang menganggap bahwa untuk membeli properti tidak harus sekarang karena merupakan kebutuhan besar sehingga butuh waktu lama untuk mendapatkannya yakni di masa depan. Karena itu, sebagain besar orang lebih senang memprioritaskan barang-barang masa kini seperti gonta-ganti HP, mobil dan sejenisnya.
  1. Kesalahan strategi dalam membeli properti. Kebanyakan orang menggunakan strategi membeli properti dengan cara tunai. Mereka bertahun-tahun mengumpulkan uang muka atau membeli rumah seluruhnya dengan uang tunai. Kalau pun dengan menggunakan kredit, maka kreditnya pun prosentasenya relatif kecil. Bila kita perhatikan, kenaikan harga rumah itu jauh melebihi dengan kenaikan tabungan yang bisa kita kumpulkan (terutama berlaku bagi karyawan, atau pebisnis kecil). Sebagai ilustrasinya adalah sebagai berikut:
  • Kalau anda mampu menabung Rp10 juta sebulan dengan disiplin, maka untuk membeli Rp1 milyar itu dibutuhkan waktu 100 bulan atau kurang lebih 8,5 tahun. Ini dengan asumsi harga rumah tidak naik. Padahal kita tahu, harga rumah pada 8,5 tahun yang akan datang bisa naik 4 kali lipat atau menjadi Rp4 milyar. Maka apakah anda bisa membelinya?
  • Anda mungkin akan bilang, BISA membeli rumah itu yang sekarang dengan harga Rp1 milyar dengan KPR. Tapi bagaimana dengan angsuran KPR-nya yang selama 8,5 tahun itu ditengah ketidakstabilan suku bunga dan krisis keuangan dunia? Bila angsuran KPR hanya dari uang pribadi yang anda dapatkan dari kerja, terasa sangat membosankan!
  • Karena itulah perlu teknik bagaimana membeli properti tanpa modal. Kalau pun anda harus menggunakan KPR, tapi risikonya kecil dan anda tidak mengangsur bulanan dengan uang pribadi anda. Tapi dari properti yang anda beli. Kalau pun properti anda disita karena properti yang anda beli tidak dapat dibayar angurannya, anda tidak rugi, karena anda membelinya tanpa modal. Meski demikian, masih ada kemungkinan untung karena kenaikan harga properti.

Sumber Gambar: https://economy.okezone.com/read/2016/10/26/470/1524866/faktor-penghambat-orang-indonesia-beli-properti

 

 

Enam Prinsip Sukses Investor Properti

Enam Prinsip Sukses Investor Properti

  1. Untung pada waktu beli. Kebanyakan orang membeli properti selalu berpikir untuk mendapatkan keuntungan dikemudian hari (tahun depan, dan seterusnya). Padahal kita juga bisa mendapatkan keuntungan properti pada saat transaksi karena harga belinya sudah dibawah pasar sehingga apabila saat itu langsung dan kita jual dengan harga pasar, tentu kita sudah untung. Properti seperti ini biasanya dapat kita beli dari penjual yang sangat berniat menjual atau bermotivasi tinggi untuk menjual karena butuh uang.
  2. Beli grosir jual ritel. Layaknya perdagangan yang lain, di properti juga berlaku prinsip seperti ini. Kita bisa membeli properti dalam jumlah besar kemudian kita kavling-kavling dengan dijual pada harga ritel tentunya dengan harga yang lebih tinggi. Cara ini pun bisa dengan modal sangat minim bahkan tanpa modal. Ikuti penjelasan berikutnya
  3. Leverage, beli tanpa uang. Prinsip ini dengan menggunakan uang orang lain, dalam hal ini uang bank. Dengan uang bank, bahkan kita dapat membeli properti tanpa uang sendiri sepersen pun. Penjelasan detailnya ada di bab selanjutnya.
  4. Senang pada transaksinya, BUKAN pada propertinya. Salah satu kesalahan terbesar seseorang (terutama yang mengaku investor) dalam membeli properti adalah mereka membeli properti tidak berdasarkan keuntungan finansial tetapi lebih karena faktor SUKA pada propertinya yang indah maupun arsiteknya sangat bagus. Tidak ada salahnya sih…. anda suka pada hal itu kalau properti itu untuk rumah tinggal anda. Tapi kalau sudah menyangkut investasi, anda harus memerhatikan untung dan ruginya secara finansial, dan meninggalkan perasaan SUKA atau TIDAK suka. Tetaplah berpegang pada prinsip-prinsip investasi, misalnya apakah prospek properti itu bagus? Apakah menghasilkan uang masuk yang positif? Bagaimana pertumbuhan properti didaerah itu? Dan sebagainya.. Investasi properti adalah masalah angka-angka. Maksudnya adalah apakah secara angka finansial akan untung atau tidak. Untuk memperjelas hal ini, saya berikan contoh seorang mantan tetangga saya di Depok – Jabar (karena sekarang sudah tidak bertetangga, saya pindah ke Jakarta Selatan). Dulu tahun 1999 – 2001 saya tinggal di komplek perumahan. Rumah yang saya tempati saat itu memang rumah kecil, dengan luas hanya 78 m2, termasuk rumah tetangga saya, yang kebetulan lebih besar dengan luas 90 m2. Tetangga saya ini merenovasi rumahnya dengan membangun menjadi 2 tingkat. Rumah ini memang terlihat megah dan paling bagus diantara rumah yang ada di sekitarnya. Dia menghabiskan uang Rp100 juta untuk merenovasinya (saat itu tahun 2000), sehingga total harga rumah itu menjadi Rp150 juta. Tetapi, saat rumah itu dijual pada tahun 2008 lalu, hanya laku Rp170 juta. Bayangkan, selama 8 tahun, kenaikan harganya hanya Rp20 juta. Padahal saat itu rumah saya terjual dua kali lipat selama kurun waktu 2 tahun (1999 – 2001). Mengapa hal ini bisa terjadi?
    • Pertama, tetangga saya ini lebih menyukai propertinya (sehingga mengeluarkan uang berapa pun untuk merenovasi), tanpa analisa transaksinya, apakah rumah itu cocok berdiri mewah dilingkungan yang ‟salah‟.
    • Kedua, karena  sebenarnya  keindahan  rumah     atau keindahan arsitektur tidak serta merta bisa meningkatkan harga rumah, kalau rumah itu pada lokasi yang tidak tepat. Maksud saya begini. Kalau diperhatikan, lingkungan rumah tersebut  berada  pada  lingkungan  komplek  perumahan untuk  golongan  menengah  ke  bawah  (RSSS,  Rumah Sangat  Sempit  Sekali,  ..)  sehingga  tentu  saja,kemampuan daya beli mereka rata-rata ya… misalnya hanya sebesar Rp50 – Rp100 juta). Dengan demikian, kalau ada rumah yang harganya diatas Rp100 juta maka hanya orang-orang tertentu yang berniat membelinya, dengan alasan mungkin dia ingin di daerah itu. Tapi, biasanya, kalau seseorang yang punya uang lebih besar, ia akan lebih cenderung memilih lingkungan yang sesuai dengan tingkat sosialnya.
  5. Tidak ikut-ikutan. Salah satu kunci untuk sukses di bisnis properti adalah tidak ikut-ikutan membeli properti. Misalnya saat ini masyarakat khususnya di kota besar seperti Jakarta sedang antre membeli ‟gambar‟ rusunami (rumah susun bersubsidi). Padahal, dari sebagian besar mereka yang antre itu, membeli dengan alasan investasi karena ikut-ikutan. Strategi yang seharusnya adalah, membeli saat orang lain menjual, dan menunggu kesempatan baik saat orang lain membeli. Strategi ini tentu membutuhkan keinginan kuat dari anda untuk tidak sekedar ikut-ikutan tanpa menganalisa kondisi properti.Jarang menjual properti
  6. Pernahkah  anda  mendengarkan  perkataan  seperti  ini? ”Aduh…terus terang saya nyesel sekali telah menjual rumah saya 10 tahun lalu seharga Rp100 juta. Padahal kalau dijual sekarang harganya bisa Rp1,5 milyar”. Atau anda mendengar keluhan para pensiunan atau orang-orang tua seperti ini, ”coba kalau dulu saya beli 3 rumah ini. Pasti saya sudah kaya. Bayangkan saja, rumah ini saya beli 20 tahun lalu hanya Rp10 juta dan sekarang sudah seharga Rp1 milyar”. Saya sendiri sudah sangat sering mendengar kalimat ini. Berdasarkan pengalaman itu, maka sebaiknya investor properti tidak menjual propertinya kecuali dalam kondisi yang memaksa atau tidak ada jalan keluar yang lebih baik.

Empat Cara Orang Kaya dari Properti

Empat Cara Orang Kaya dari Properti

  1. Berjudi, Percaya atau tidak, hampir sebagian besar orang Indonesia yang membeli properti adalah dengan cara berjudi karena mereka berspekulasi. Mengapa mereka saya sebut sebagai penjudi properti? Pertama, pada umumnya saat mereka membeli properti belum tahu harga jualnya. Mereka hanya mengharapkan harga properti akan naik pada masa yang akan datang. Mereka biasanya juga bermodalkan „Harapan dan Do‟a‟. Berharap harga properti naik dan berdoa agar harapannya terkabul. Pada golongan mereka ini juga masih dibedakan menjadi tiga kelompok yakni:                                                    – Kelompok Penjudi “Ngawur‟, karena mereka memiliki prinsip bahwa harga properti selalu naik setiap tahunnya. Padahal, tidak selalu demikian. Di Jepang, Singapore bahkan di Indonesia pun harga properti bisa turun. Coba perhatikan harga properti seperti kios atau toko di mall-mall, yang karena sepi mall-nya sehingga harganya turun drastis, hingga tidak laku dijual.                                                                                          -Kelompok Penjudi yang ikut-ikutan. Kelompok ini membeli properti karena ikut-ikutan. Tergiur sama iklan pengembang, atau ajakan teman, sanak saudara, pacar atau atasannya. Sebagai contoh ketika orang berbondong-bondong membeli rusunami (rumah susun sederhana) hingga antri berjam-jam hanya untuk membeli properti tersebut. Padahal mereka ini belum tentu tahu bagaimana prospek rusunami ke depan, bagaimana harga jualnya dan sebagainya..                                              -Kelompok Penjudi Percaya Diri (PD), yakni orang-orang yang membeli properti karena rasa percaya dirinya sangat tinggi terhadap  properti  yang  akan    Seperti  mereka  yang membeli ‟gambar‟ apartemen, kios/toko di mall. Padahal membeli properti seperti itu risikonya terlalu tinggi. Apartemen, maupun kios/toko di mall tentu memiliki risiko yang tinggi dibandingkan dengan rumah/ruko, karena membangun apartemen pengembang harus benar-benar kuat pendanaan dan perhitungannya.
  2. Orang juga bisa kaya dengan menjadi pedagang properti. Bedanya penjudi dengan pedagang adalah karena pedagang sudah mengerti harga jual properti saat membelinya. Sama seperti pedagang buku bekas misalnya, maka pedagang buku ini pasti sudah memperkirakan harga jual bukunya. Contoh golongan pedagang properti adalah pembebas tanah, private investor, developer, atau pedagang yang membeli properti pada first market/saat launching.
  3. Investor. Investor properti mendapatkan untung dari hasil sewa dan gain (selisih kenaikan harga). Ada beberapa tipe investor yakni:                       -Investor dengan dana sendiri. Ia tidak punya ilmu tapi punya uang  untuk membeli properti. Investor tipe ini, biasanya masih bisa rugi.           -Investor yang punya ilmu properti tapi tidak punya dana.                         -Investor yang punya ilmu, punya dana dan ditambah dana orang lain.    – Investor yang punya ilmu dan tanpa modal sendiri sepersen pun (dengan modal 1000% dari orang lain). Ini adalah investor yang sudah canggih.
  4. Broker/Agen Properti, mendapatkan keuntungan dari fee penjualan maupun pembeli properti. Siapa pun bisa memulai bisnis ini dengan belajar pada properti agen yang sudah ada dan memiliki reputasi baik/bonafid dengan cara menjadi marketing associate untuk beberapa bulan atau 1-2 tahun. Setelah menguasai ilmunya, maka mereka mendirikan properti agen sendiri. Atau dengan cara kedua, yakni langsung memulai bisnis properti agen sendiri dengan cara mencari rumah yang akan dijual dan anda menawarkan kepada pemiliknya untuk membantu menjualnya.

Sumber Gambar :https://www.google.co.id/searchq=kaya+dengan+properti

Persamaan antara Orang Kaya

Ada persamaan diantara orang-orang yang sudah kaya, yakni mereka sama-sama memiliki properti (tanah, rumah, ruko, vila, apartemen, kantor). Di dunia ini hampir 100% orang yang kaya selalu memiliki properti. Orang kaya memiliki properti untuk investasi atau bisa juga ia kaya dari bisnis properti. Properti merupakan salah satu cara yang baik untuk diversifikasi dalam pengelolaan keuangan maupun cara cepat untuk menjadi kaya. Karena itu, ilmu untuk mengelola properti, ilmu untuk berbisnis properti, menurut saya merupakan ilmu „wajib‟ yang harus dimiliki seseorang apabila ia ingin kaya dan semakin kaya.

Sayangnya, tidak semua orang mau mempelajari ilmu atau seluk beluk properti (rumah, tanah, ruko, apartemen, rukan) karena masih banyak yang beranggapan bahwa properti adalah miliknya orang kaya atau bisnisnya orang kaya. Padahal, justru harus sebaliknya. Karena kita ingin kaya, maka kita harus mempelajari properti. Apalagi, kini kita bisa memiliki properti dengan modal kecil atau bahkan sama sekali tanpa modal alias modal dengkul‟.

 

Sumber gambar : Google

Empat Cara Orang Kaya dari Properti, Anda Termasuk yang Mana?

Ada empat cara untuk kaya dari properti. Anda mau masuk jalur mana? 

  1. Percaya atau tidak, hampir sebagian besar orang Indonesia yang membeli properti adalah dengan cara berjudi karena mereka berspekulasi. Mengapa mereka saya sebut sebagai penjudi properti? Pertama, pada umumnya saat mereka membeli properti belum tahu harga jualnya. Mereka hanya mengharapkan harga properti akan naik pada masa yang akan datang. Mereka biasanya juga bermodalkan ‘Harapan dan Do’a’. Berharap harga properti naik dan berdoa agar harapannya terkabul. Pada golongan mereka ini juga masih dibedakan menjadi tiga kelompok yakni:

 

(a) Kelompok Penjudi ‘Ngawur’, karena mereka memiliki prinsip bahwa harga properti selalu naik setiap tahunnya. Padahal, tidak selalu demikian. Di Jepang, Singapore bahkan di Indonesia pun harga properti bisa turun. Coba perhatikan harga properti seperti kios atau toko di mall-mall, yang karena sepi mall-nya sehingga harganya turun drastis, hingga tidak laku dijual.

 

(b) Kelompok Penjudi yang ikut-ikutan. Kelompok ini membeli properti karena ikut-ikutan. Tergiur sama iklan pengembang, atau ajakan teman, sanak saudara, pacar atau atasannya. Sebagai contoh ketika orang berbondong-bondong membeli rusunami (rumah susun sederhana) hingga antri berjam-jam hanya untuk membeli properti tersebut. Padahal mereka ini belum tentu tahu bagaimana prospek rusunami ke depan, bagaimana harga jualnya dan sebagainya.

 

(c) Kelompok Penjudi Percaya Diri (PD), yakni orang-orang yang membeli properti karena  rasa percaya dirinya sangat tinggi terhadap properti yang akan dibeli. Seperti mereka yang membeli ’gambar’ apartemen, kios/toko di mall. Padahal membeli properti seperti itu risikonya terlalu tinggi. Apartemen, maupun kios/toko di mall tentu memiliki risiko yang tinggi dibandingkan dengan rumah/ruko, karena membangun apartemen pengembang harus benar-benar kuat pendanaan dan perhitungannya.

 

  1. Orang juga bisa kaya dengan menjadi pedagang properti. Bedanya penjudi dengan pedagang adalah karena pedagang sudah mengerti harga jual properti saat membelinya. Sama seperti pedagang buku bekas misalnya, maka pedagang buku ini pasti sudah memperkirakan harga jual bukunya. Contoh golongan pedagang properti adalah pembebas tanah, private investor, developer, atau pedagang yang membeli properti pada first market/saat launching.

 

  1. Investor properti mendapatkan untung dari hasil sewa dan gain (selisih kenaikan harga). Ada beberapa tipe investor yakni:
    • Investor dengan dana sendiri. Ia tidak punya ilmu tapi punya uang untuk membeli properti. Investor tipe ini, biasanya masih bisa rugi.
    • Investor yang punya ilmu properti tapi tidak punya dana
    • Investor yang punya ilmu, punya dana dan ditambah dana orang lain
    • Investor yang punya ilmu dan tanpa modal sendiri sepersen pun (dengan modal 1000% dari orang lain). Ini adalah investor yang sudah canggih.

 

  1. Broker/Agen Properti, mendapatkan keuntungan dari fee penjualan maupun pembeli properti. Siapa pun bisa memulai bisnis ini dengan belajar pada properti agen yang sudah ada dan memiliki reputasi baik/bonafid dengan cara menjadi marketing associate untuk beberapa bulan atau 1-2 tahun. Setelah menguasai ilmunya, maka mereka mendirikan properti agen sendiri. Atau dengan cara kedua, yakni langsung memulai bisnis properti agen sendiri dengan cara mencari rumah yang akan dijual dan anda menawarkan kepada pemiliknya untuk membantu menjualnya.

Catatan oleh Safak Muhammad, Investor & Konsultan Properti