Email : info@surgoland.com CALL/WA : 08788 6846 700
    Facebook
  • Instagram

Tiga Ketrampilan yang Harus dimiliki Investor Properti   

Tiga Ketrampilan yang Harus dimiliki Investor Properti           

Sebelum anda menekuni bisnis properti, maka anda wajib memiliki ketrampilan berikut ini.

  1. Ketrampilan untuk mendapatkan transaksi properti dibawah harga pasar. Untuk mendapatkan properti dibawah harga pasar dapat menggunakan cara-cara berikut:
  • Memanfaatkan situasi diskon, lelang, atau dari penjual yang merasa dirugikan atas properti yang dimilikinya sehingga ia ingin cepat-cepat menjual propertinya, orang butuh duit karena mau bagi-bagi warisan, sakit keras dan butuh biaya untuk berobat, termasuk suami-istri yang mau cerai dan lagi Orang yang butuh cepat untuk menjual propertinya tidak selalu dalam kesulitan, tapi bisa juga karena pemilik properti ini memiliki peluang bisnis yang lebih besar hingga ia ‟mengorbankan‟ propertinya.   Nah,   untuk   mendapatkan informasi properti yang demikian itu, tentu perlu ketrampilan dan networking yang luas.
  • Properti yang bermasalah. Bagi orang lain, sebuah properti bisa dianggap sebagai masalah. Tapi bagi kita justru bisa menguntungkan. Misalkan saja, ada properti yang dimiliki oleh beberapa orang ahli waris dan diantara ahli waris ini pada berantem, bertengkar. Padahal, mereka ini mau menjual warisan tersebut. Karena kondisinya seperti itu, maka setiap kali ada calon pembeli selalu membatalkan niatnya, karena susahnya mengumpulkan para ahli waris tersebut, atau karena takut masalah lain yang akan timbul. Ini adalah masalah! Karena itu, kalau anda bisa menyelesaikan masalah ini maka anda bisa menawar properti ini dengan harga dibawah pasar. Properti bermasalah yang saya maksudkan, bukan properti yang secara hukum dalam sengketa. Properti yang saya maksudkan adalah properti yang secara hukum tidak ada masalah, tetapi masalahnya hanya pada pemiliknya atau kondisi bangunan. Dalam kaitannya dengan masalah pada bangunan, anda harus berpegang teguh pada prinsip ”properti jelek pada lokasi terbaik”. Bisa saja kondisi propertinya jelek karena tidak terawat, tapi kalau properti itu lokasinya didaerah strategis atau lingkungan yang baik, maka anda akan mendapat peluang untung besar. Contohnya, seperti sahabat saya yang membeli tanah didaerah sekitar komplek perumahan elite di Bogor. Dia membeli tanah untuk dibangun rumah seluas 700 m2 dengan harga hanya Rp170 ribu per m2. Harga ini sangat murah bila dibandingkan dengan harga tanah di komplek itu yang mencapai Rp1 juta per meter. Tanah ini berada dibelakang komplek yang dipisahkan oleh sungai kecil. Meski harga tanah ini murah, tapi ketika dijual tidak laku. Kebanyakan calon pembeli mundur (tidak jadi membeli) karena menganggap lokasi tanah ini bermasalah, tidak akses ke lokasi. Sahabat saya ini berpikir dan menemukan solusi dengan membangun jembatan penghubung. Setelah dikalkulasi, biaya membuat jembatan sebesar Rp100 juta. Jadi, total yang harus dikeluarkan untuk membeli tanah beserta membangun jembatan adalah Rp119 juta + Rp100 juta = Rp219 juta. Kalau dihitung dengan luas tanah 700 meter maka harga per meter tanah ini hanya sebesar Rp313 ribu. Bandingkan dengan harga di komplek perumahan itu yang mencapai Rp1 juta. Seandainya dia mau jual lagi, maka minimal Rp750 ribu per meter tentu bukan harga yang mahal. Contoh lainnya seperti seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang dan dia harus menjual properti itu karena untuk segera menjual propertinya sebelum di lelang. Atau seorang pengusaha yang butuh uang cepat karena harus mengejar bisnis lain yang lebih menguntungkan.
  • Lahan untuk dikonversi. Sebagai contoh, tanah sawah di konversi menjadi gudang tentu akan meningkatkan harga tanah. Bisa juga gudang dikonversi menjadi perkantoran. Dan masih banyak lagi contoh-contoh konversi penggunaan lahan termasuk konversi tanah kebon menjadi rumah tinggal.
  1. Ketrampilan untuk mendanai properti. Banyak orang yang memiliki keahlian atau ketrampilan untuk mendapatkan transaksi properti tapi belum tentu mereka memiliki ketrampilan untuk mendanai transaksinya. Karena itu, tidak heran kalau transaksi properti mereka seringkali gagal. Kemampuan mendanai ini tidak harus dari dana sendiri, tapi justru mendapatkan dana dari orang lain khususnya pihak perbankan.
  2. Ketrampilan memasarkan kembali properti yang dibeli. Ketrampilan ini ada kaitannya dengan strategi memasarkan properti, khususnya bila anda berjual beli properti. Tapi kalau anda investor tulen (benar-benar investor), maka ketrampilan ini tidak wajib. Bila anda jual beli, anda bisa juga bekerja sama dengan properti agen untuk memasarkan properti anda. Bisa juga pasang iklan dan lainnya.

Sumber gambar: https://wealthmasteryacademy.com/wp-content/uploads/2016/10/Property-Investment

Enam Prinsip Sukses Investor Properti

Enam Prinsip Sukses Investor Properti

  1. Untung pada waktu beli. Kebanyakan orang membeli properti selalu berpikir untuk mendapatkan keuntungan dikemudian hari (tahun depan, dan seterusnya). Padahal kita juga bisa mendapatkan keuntungan properti pada saat transaksi karena harga belinya sudah dibawah pasar sehingga apabila saat itu langsung dan kita jual dengan harga pasar, tentu kita sudah untung. Properti seperti ini biasanya dapat kita beli dari penjual yang sangat berniat menjual atau bermotivasi tinggi untuk menjual karena butuh uang.
  2. Beli grosir jual ritel. Layaknya perdagangan yang lain, di properti juga berlaku prinsip seperti ini. Kita bisa membeli properti dalam jumlah besar kemudian kita kavling-kavling dengan dijual pada harga ritel tentunya dengan harga yang lebih tinggi. Cara ini pun bisa dengan modal sangat minim bahkan tanpa modal. Ikuti penjelasan berikutnya
  3. Leverage, beli tanpa uang. Prinsip ini dengan menggunakan uang orang lain, dalam hal ini uang bank. Dengan uang bank, bahkan kita dapat membeli properti tanpa uang sendiri sepersen pun. Penjelasan detailnya ada di bab selanjutnya.
  4. Senang pada transaksinya, BUKAN pada propertinya. Salah satu kesalahan terbesar seseorang (terutama yang mengaku investor) dalam membeli properti adalah mereka membeli properti tidak berdasarkan keuntungan finansial tetapi lebih karena faktor SUKA pada propertinya yang indah maupun arsiteknya sangat bagus. Tidak ada salahnya sih…. anda suka pada hal itu kalau properti itu untuk rumah tinggal anda. Tapi kalau sudah menyangkut investasi, anda harus memerhatikan untung dan ruginya secara finansial, dan meninggalkan perasaan SUKA atau TIDAK suka. Tetaplah berpegang pada prinsip-prinsip investasi, misalnya apakah prospek properti itu bagus? Apakah menghasilkan uang masuk yang positif? Bagaimana pertumbuhan properti didaerah itu? Dan sebagainya.. Investasi properti adalah masalah angka-angka. Maksudnya adalah apakah secara angka finansial akan untung atau tidak. Untuk memperjelas hal ini, saya berikan contoh seorang mantan tetangga saya di Depok – Jabar (karena sekarang sudah tidak bertetangga, saya pindah ke Jakarta Selatan). Dulu tahun 1999 – 2001 saya tinggal di komplek perumahan. Rumah yang saya tempati saat itu memang rumah kecil, dengan luas hanya 78 m2, termasuk rumah tetangga saya, yang kebetulan lebih besar dengan luas 90 m2. Tetangga saya ini merenovasi rumahnya dengan membangun menjadi 2 tingkat. Rumah ini memang terlihat megah dan paling bagus diantara rumah yang ada di sekitarnya. Dia menghabiskan uang Rp100 juta untuk merenovasinya (saat itu tahun 2000), sehingga total harga rumah itu menjadi Rp150 juta. Tetapi, saat rumah itu dijual pada tahun 2008 lalu, hanya laku Rp170 juta. Bayangkan, selama 8 tahun, kenaikan harganya hanya Rp20 juta. Padahal saat itu rumah saya terjual dua kali lipat selama kurun waktu 2 tahun (1999 – 2001). Mengapa hal ini bisa terjadi?
    • Pertama, tetangga saya ini lebih menyukai propertinya (sehingga mengeluarkan uang berapa pun untuk merenovasi), tanpa analisa transaksinya, apakah rumah itu cocok berdiri mewah dilingkungan yang ‟salah‟.
    • Kedua, karena  sebenarnya  keindahan  rumah     atau keindahan arsitektur tidak serta merta bisa meningkatkan harga rumah, kalau rumah itu pada lokasi yang tidak tepat. Maksud saya begini. Kalau diperhatikan, lingkungan rumah tersebut  berada  pada  lingkungan  komplek  perumahan untuk  golongan  menengah  ke  bawah  (RSSS,  Rumah Sangat  Sempit  Sekali,  ..)  sehingga  tentu  saja,kemampuan daya beli mereka rata-rata ya… misalnya hanya sebesar Rp50 – Rp100 juta). Dengan demikian, kalau ada rumah yang harganya diatas Rp100 juta maka hanya orang-orang tertentu yang berniat membelinya, dengan alasan mungkin dia ingin di daerah itu. Tapi, biasanya, kalau seseorang yang punya uang lebih besar, ia akan lebih cenderung memilih lingkungan yang sesuai dengan tingkat sosialnya.
  5. Tidak ikut-ikutan. Salah satu kunci untuk sukses di bisnis properti adalah tidak ikut-ikutan membeli properti. Misalnya saat ini masyarakat khususnya di kota besar seperti Jakarta sedang antre membeli ‟gambar‟ rusunami (rumah susun bersubsidi). Padahal, dari sebagian besar mereka yang antre itu, membeli dengan alasan investasi karena ikut-ikutan. Strategi yang seharusnya adalah, membeli saat orang lain menjual, dan menunggu kesempatan baik saat orang lain membeli. Strategi ini tentu membutuhkan keinginan kuat dari anda untuk tidak sekedar ikut-ikutan tanpa menganalisa kondisi properti.Jarang menjual properti
  6. Pernahkah  anda  mendengarkan  perkataan  seperti  ini? ”Aduh…terus terang saya nyesel sekali telah menjual rumah saya 10 tahun lalu seharga Rp100 juta. Padahal kalau dijual sekarang harganya bisa Rp1,5 milyar”. Atau anda mendengar keluhan para pensiunan atau orang-orang tua seperti ini, ”coba kalau dulu saya beli 3 rumah ini. Pasti saya sudah kaya. Bayangkan saja, rumah ini saya beli 20 tahun lalu hanya Rp10 juta dan sekarang sudah seharga Rp1 milyar”. Saya sendiri sudah sangat sering mendengar kalimat ini. Berdasarkan pengalaman itu, maka sebaiknya investor properti tidak menjual propertinya kecuali dalam kondisi yang memaksa atau tidak ada jalan keluar yang lebih baik.

Empat Cara Orang Kaya dari Properti

Empat Cara Orang Kaya dari Properti

  1. Berjudi, Percaya atau tidak, hampir sebagian besar orang Indonesia yang membeli properti adalah dengan cara berjudi karena mereka berspekulasi. Mengapa mereka saya sebut sebagai penjudi properti? Pertama, pada umumnya saat mereka membeli properti belum tahu harga jualnya. Mereka hanya mengharapkan harga properti akan naik pada masa yang akan datang. Mereka biasanya juga bermodalkan „Harapan dan Do‟a‟. Berharap harga properti naik dan berdoa agar harapannya terkabul. Pada golongan mereka ini juga masih dibedakan menjadi tiga kelompok yakni:                                                    – Kelompok Penjudi “Ngawur‟, karena mereka memiliki prinsip bahwa harga properti selalu naik setiap tahunnya. Padahal, tidak selalu demikian. Di Jepang, Singapore bahkan di Indonesia pun harga properti bisa turun. Coba perhatikan harga properti seperti kios atau toko di mall-mall, yang karena sepi mall-nya sehingga harganya turun drastis, hingga tidak laku dijual.                                                                                          -Kelompok Penjudi yang ikut-ikutan. Kelompok ini membeli properti karena ikut-ikutan. Tergiur sama iklan pengembang, atau ajakan teman, sanak saudara, pacar atau atasannya. Sebagai contoh ketika orang berbondong-bondong membeli rusunami (rumah susun sederhana) hingga antri berjam-jam hanya untuk membeli properti tersebut. Padahal mereka ini belum tentu tahu bagaimana prospek rusunami ke depan, bagaimana harga jualnya dan sebagainya..                                              -Kelompok Penjudi Percaya Diri (PD), yakni orang-orang yang membeli properti karena rasa percaya dirinya sangat tinggi terhadap  properti  yang  akan    Seperti  mereka  yang membeli ‟gambar‟ apartemen, kios/toko di mall. Padahal membeli properti seperti itu risikonya terlalu tinggi. Apartemen, maupun kios/toko di mall tentu memiliki risiko yang tinggi dibandingkan dengan rumah/ruko, karena membangun apartemen pengembang harus benar-benar kuat pendanaan dan perhitungannya.
  2. Orang juga bisa kaya dengan menjadi pedagang properti. Bedanya penjudi dengan pedagang adalah karena pedagang sudah mengerti harga jual properti saat membelinya. Sama seperti pedagang buku bekas misalnya, maka pedagang buku ini pasti sudah memperkirakan harga jual bukunya. Contoh golongan pedagang properti adalah pembebas tanah, private investor, developer, atau pedagang yang membeli properti pada first market/saat launching.
  3. Investor. Investor properti mendapatkan untung dari hasil sewa dan gain (selisih kenaikan harga). Ada beberapa tipe investor yakni:                       -Investor dengan dana sendiri. Ia tidak punya ilmu tapi punya uang  untuk membeli properti. Investor tipe ini, biasanya masih bisa rugi.           -Investor yang punya ilmu properti tapi tidak punya dana.                         -Investor yang punya ilmu, punya dana dan ditambah dana orang lain.    – Investor yang punya ilmu dan tanpa modal sendiri sepersen pun (dengan modal 1000% dari orang lain). Ini adalah investor yang sudah canggih.
  4. Broker/Agen Properti, mendapatkan keuntungan dari fee penjualan maupun pembeli properti. Siapa pun bisa memulai bisnis ini dengan belajar pada properti agen yang sudah ada dan memiliki reputasi baik/bonafid dengan cara menjadi marketing associate untuk beberapa bulan atau 1-2 tahun. Setelah menguasai ilmunya, maka mereka mendirikan properti agen sendiri. Atau dengan cara kedua, yakni langsung memulai bisnis properti agen sendiri dengan cara mencari rumah yang akan dijual dan anda menawarkan kepada pemiliknya untuk membantu menjualnya.

Sumber Gambar :https://www.google.co.id/searchq=kaya+dengan+properti

Persamaan antara Orang Kaya

Ada persamaan diantara orang-orang yang sudah kaya, yakni mereka sama-sama memiliki properti (tanah, rumah, ruko, vila, apartemen, kantor). Di dunia ini hampir 100% orang yang kaya selalu memiliki properti. Orang kaya memiliki properti untuk investasi atau bisa juga ia kaya dari bisnis properti. Properti merupakan salah satu cara yang baik untuk diversifikasi dalam pengelolaan keuangan maupun cara cepat untuk menjadi kaya. Karena itu, ilmu untuk mengelola properti, ilmu untuk berbisnis properti, menurut saya merupakan ilmu „wajib‟ yang harus dimiliki seseorang apabila ia ingin kaya dan semakin kaya.

Sayangnya, tidak semua orang mau mempelajari ilmu atau seluk beluk properti (rumah, tanah, ruko, apartemen, rukan) karena masih banyak yang beranggapan bahwa properti adalah miliknya orang kaya atau bisnisnya orang kaya. Padahal, justru harus sebaliknya. Karena kita ingin kaya, maka kita harus mempelajari properti. Apalagi, kini kita bisa memiliki properti dengan modal kecil atau bahkan sama sekali tanpa modal alias modal dengkul‟.

 

Sumber gambar : Google

Menemui Guru Properti No.1 Indonesia

Tahun 2012 saya pernah belajar properti dari sekolah propertinya Pakar Properti no.1 Indonesia, Panangian Simanungkalit. Sudah lama saya tidak bertemu lagi dengan beliau, dan kemarin, 15 Mei 2018 saya sempatkan minta waktu beliau untuk bertemu. Alhamdulillah kita bisa bertemu dan berdiskusi tentang kondisi bisnis/pasar properti saat ini dan ke depan. Banyak hal yang saya tanyakan kepada beliau. Diantaranya tentang prediksi pasar properti 2018 – 2019, hingga strategi-strategi bermain/investasi properti.

Terima kasih, moga pertemuan itu bermanfaat..